Betawi, di Antara Tradisi dan Syariat Islam
05 Jul 2010 2 Komentar
in agama
Jakarta sebagai ibukota negara Indonesia, menyimpan potensi sejarah dan budaya yang beragam. Perpaduan budaya dan tradisi yang beraneka ragam dari berbagai bangsa merupakan warisan yang perlu kita jaga dan kritisi.
Salah satu tradisi dan budaya yang meramaikan Jakarta, ialah tradisi yang dilaksanakan secara turun temurun oleh penduduk asli Jakarta, yaitu Betawi. Tradisi dan budaya Betawi merupakan perpaduan beragam tradisi yang ada di Jakarta. Budaya Betawi merupakan adaptasi dari beberapa budaya yang datang dari berbagai tradisi yang berkembang saat itu, yaitu Islam, Hindu, Arab dan Cina. Masyarakat Betawi yang memegang teguh keyakinannya yaitu Islam, telah menjadikan Islam sebagai bagian dari nilai-nilai yang tersiratkan dalam melakukan aktifitas kehidupan sehari-hari (tradisi). Islam sangat dominan dalam mewarnai budaya yang berkembang di Betawi. Namun, karena masyarakat Betawi hidup diantara budaya dan tradisi yang dibawa bangsa lain, seperti Arab, Cina, Jawa dan Melayu, maka terjadilah pembauran tradisi dan budaya yang ada pada masyarakat Betawi tersebut.
Tradisi dan budaya Betawi yang berkembang saat ini perlu untuk kita kritisi dan perbaiki. Kita perlu memurnikan budaya tersebut agar kemballi pada budaya dan tradisi yang Islami, yang tidak tercampuri dengan budaya-budaya yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Berikut ini adalah budaya dan tradisi yang berkembang di masyarakat Betawi yang perlu kita cermati dan kritisi.
a. Ruwahan
Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Betawi pada bulan Sya’ban, menjelang datangnya bulan puasa (Ramadhan). Bulan Sya’ban bagi orang Betawi merupakan bulan yang banyak dilakukan aktifitas persiapan menjelang bulan puasa. orang Betawi menyebut bulan Sya’ban dengan sebutan bulan Ruwah atau arwah. Tradisi yang ada pada bulan ini adalah tradisi Ruwahan. Masyarakat Betawi yang mempunyai kerabat dan juga sanak famili yang telah meninggal, dipercaya oleh sebagian orang Betawi, akan datang arwahnya kerumah untuk menengok keluarganya. Kepercayaan seperti ini, kemudian disikapi dengan mengadakan acara Ruwahan, mengundang sanak famili,tetangga dan ustad/kyai untuk selamatan, mendo’akan kerabat dan sanak famili yang telah wafat agar diampuni segala dosa-dosanya semasa hidupnya dan ditempatkan ditempat yang sebaik-baiknya.
b.Nyekar (ziarah kubur)
Masyarakat Jakarta umumnya dan Betawi pada khususnya, menjelang datangnya bulan Ramadhan mengadakan tradisi, yaitu mengunjungi makam kerabat mereka yang telah meninggal. Mereka berziarah kubur, mendo’akan kerabat atau orang yang mereka cintai agar diampuni segala dosa-dosanya. Satu hari menjelang datangnya bulan Ramadhan kita saksikan ramainya makam-makam yang ada di Jakarta dengan peziarah-peziarah yang datang dari berbagai pelosok Jakarta.
Tradisi ini juga dilakukan pada saat hari raya Idul Fitri, dengan tujuan ahli kubur ikut merasakan suasana hari raya tersebut, sebagaimana sanak famili yang bergembira menyambut datangnya hari raya tersebut.
c.Nisfu Sya’ban
Tradisi Nisfu Sya’ban ini dilakukan pada pertengahan bulan Sya’ban. Masyarakat Betawi pada sore hari menjelang Maghrib, beramai-ramai mendatangi Musholla, masjid atau rumah pengajian, untuk melakukan tradisi Nisfu Sya’ban (Nisfu-an). Acara dilakukan setelah sholat Maghrib, dilanjutkan dengan membaca tahlilan dan surat Yaasin berulang-ulang. Mereka yang melakukan acara ini berharap mendapat berkah di bulan Sya’ban dan bisa menjalankan ibadah puasa dengan lancar dan baik.
d.Haul
Tradisi ini banyak dilakukan oleh orang Betawi, dengan mengadakan semacam acara mengenang wafatnya kerabat atau sanak famili mereka yang telah melewati waktu setahun dari kematiannya. Dalam acara ini diadakan tahlilan dan do’a, mendo’akan mereka yang telah meninggal agar diampuni segala dosa-dosanya serta mendapatkan tempat di surga.Acara haul ini banyak juga yang dilaksanakan berbarengan dengan bulan Sya’ban.
e.Tahlilan
Masyarakat Betawi melakukan acara ataupun tradisi tahlilan, manakala ada kerabat mereka yang meninggal. Acara ini dilakukan pada sore dan malam hari dengan mengundang sanak famili, dan para tetangga yang ada disekitar keluarga musibah. Tujuan acara ini, yaitu untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan, agar tabah dan sabar menerima kematian sanak saudaranya. Acara ini diadakan sesuai dengan kemampuan keluarga ahli waris, ada yang tiga hari dan tujuh hari. Kemudian dilanjutkan pada malam keempat belas, seratus hari dan seribuhari.Acara tahlilan, kadang juga menjadi ajang pamer keluarga ahli waris, mereka yang kaya biasanya menyajikan aneka hidangan dan bingkisan yang beragam buat pentakziah (orang yang ikut tahlilan), sementara yang kurang mampu menyediakan hidangan ala kadarnya.
f.Ratiban
Orang Betawi yang ingin melakukan perjalanan jauh (safar), atau menunaikan ibadah haji biasanya mengadakan acara Ratiban. Acara Ratiban ini dilakukan menjelang keberangkatan seseorang ataupun keluarga yang akan melakukan perjalanan ibadah haji ketanah suci. Pada acara ini dilakukan pembacaan ratib dan ceramah agama mengenai seputar ibadah haji. Tuan rumah pada acara ini menyediakan jamuan makan dan bingkisan untuk para tamu atau jamaah yang datang, dengan harapan dido’akan keselamatannya dalam menjalankan ibadah haji, agar menjadi haji yang mabrur.
g.Nujuh Bulanan
Masyarakat Betawi melakukan acara Nujuh Bulanan ini, manakala ada anak perempuannya yang telah berkeluarga dan sedang hamil tujuh bulan. Acara ini dilakukan kaum ibunya dengan mengadakan acara selametan, pembacaan do’a dan surat Maryam ataupun surat Yusuf. Mereka mendo’akan sang ibu dan janin yang dikandungnya agar selamat dan sehat selalu. Mendo’akan anak yang akan lahir menjadi anak yang soleh ataupun soleha. Acara ini biasanya juga disisipkan tradisi rujakan, yang terbuat dari berbagai macam buah termasuk didalamnya buah delima.
Demikianlah, secara sekilas tradisi dan budaya Betawi yang berkembang dan ada pada saat ini. Dengan harapan kita bisa mencermati dan memilah mana budaya yang sesuai dengan ajaran Islam dan mana yang tidak. Walaupun acara maupun tradisi tersebut sudah turun-temurun di masyarakat Betawi, namun kita sebagai generasi penerusnya perlu mengkoreksi tradisi dan budaya yang tidak sesuai dan diajarkan dalam Islam. Mari kita bersihkan tradisi dan budaya Betawi yang masih berbau tahayul,bid’ah dan khurafat dari masyarakat Betawi pada khususnya dan masyarakat Jakarta pada umumnya. Betawi Oke, Islam Oke.





Komentar Terakhir