Membangun Ekonomi Ummat
30 Jun 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
in agama
“Alangkah indahnya bila harta yang baik berada ditangan orang yang sholeh”(Hadist)
Kita maklum, Islam adalah agama yang mengajarkan keseimbangan hidup antara urusan dunia dan akhirat. tidak melulu mengejar kehidupan dunia, atau akhirat semata. Dunia adalah ladang amal (sarana) orang beriman untuk memperbanyak bekal (pahala) menuju kehidupan yang lebih kekal yaitu akhirat. Kita tidak boleh menyepelekan hubungan kita kepada sesama manusia (hablum minannas) dan juga kepada sang pencipta (hablum minallah).
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi…” (al-Qashash:78)
Islam adalah agama yang menganjurkan umatnya untuk hidup sejahtera dengan bekerja atau berdagang. Kejayaan Islam akan bisa kita capai manakala umatnya hidup berkecukupan dan jauh dari kemiskinan (sejahtera). Karena kemiskinan (kefakiran)rentan terhadap kekafiran. banyak sekali kasus yang menimpa dan mendera orang miskin. Banyak aqidah umat yang tergadai oleh kemiskinan. hal ini sering dimanfaatkan oleh pihak non muslim untuk mempengaruhi kaum muslim yang miskin dan tipis imannya untuk berpindah agama.
Kemiskinan juga mengakibatkan timbulnya dampak sosial yang merugikan umat Islam seperti: kebodohan, kriminalitas dan sikap apatis (malas). Oleh karena itu, Islam melarang umatnya bersikap acuh tak acuh terhadap kondisi yang menimpa saudara-saudaranya yang hidup miskin. Kemiskinan yang melanda sebagian Umat Islam hanya bisa diatasi manakala kita peduli dan memberikan sebagian rezeki yang kita punya untuk mereka yang lemah ekonominya.
Islam pada awal mulanya diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, tidak lepas pada masalah ekonomi. Nabi SAW sebelum diangkat sebagai Nabi dan rasul pada masa mudanya adalah seorang pengusaha (pedagang). Beliau pada masanya berkongsi dengan seorang janda pedagang besar yaitu Siti Khodijah, yang dikemudian hari menjadi istrinya. Para sahabat Nabi juga banyak yang menjadi pengusaha, diantaranya Abdurrahman bn Auf, Ustman bin Affan dan lain-lainnya.
Pada saat Nabi melakukan hijrah dari Mekkah ke madinah, hal yang beliau bangun setelah menyatukan kaum Anshor dan kaum Muhajirin ialah membangun masjid dan pasar. Hal ini beliau lakukan agar ekonomi ummat Islam pada saat itu tidak dikuasai oleh orang Yahudi dan Nasrani. Nabi SAW begitu peduli dengan perekonomian ummatnya. Adalah hal yang mustahil, Islam bisa ditegakkan tanpa adanya ekonomi (anfal).
Rukun Islam yang menjadi dasar kita dalam menyempurnakan ketaatan kita kepada Allah SWT, mulai dari syahadat, shalat, puasa zakat dan haji adalah merupakan rangkaian ibadah yang memerlukan sarana (materi). Kita butuh Masjid, madrasah, makanan, pakaian dan sarana lainnya sebagai pendukung ibadah kita. Untuk sholat kita perlu pakaian yang bersih dan layak, untuk berzakat dan berinfaq perlu harta/materi. Apalagi untuk menunaikan ibadah haji memerlukan biaya yang tidak sedikit, makanya ibadah haji hanya diperuntukan untuk kaum muslim yang mampu secara fisik dan materi (ekonomi). Untuk itulah Islam mendorong ummatnya untuk hidup sejahtera dan berkecukupan dalam bidang ekonomi.“Muslim yang kuat lebih dicintai Allah ketimbang muslim yang lemah” (hadist)
Ekonomi memegang peranan yang penting dalam membangun masyarakat untuk menuju masyarakat yang adil dan sejahtera. Hal yang perlu diperhatikan oleh kita semua adalah membangkitkan ekonomi ummat. Kita harus mengejar ketertinggalan kita dibidang ekonomi. Umat Islam yang mayoritas dalam jumlah penganutnya di Indonesia, namun minim dalam penguasaan ekonominya. Kita lemah dalam penguasaan sumber-sumber ekonomi. Sekarang perekonomian bangsa Indonesia, dikuasai oleh kaum minoritas (etnis Cina).
Kekuatan global yang menjerat dunia Islam dewasa ini, akibat lemahnya kita dalam bidang ekonomi. Negara-negara maju seperti, AS,eropa menjajah negeri ini melalui pengusaan sumber daya alam yang ada di negeri kita. Kita hanya menjadi kuli dinegeri sendiri.
Kita sudah selayaknya mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki kondisi ekonomi ummat. Kita harus kembali kepada ekonomi Islam, yang bebas dari pengaruh riba. Kita bangun lembaga-lembaga keuangan syariah seperti:BMT,BPRS dan Bank Syariah. Kita himpun dana kaum muslim melalui zakat, infaq dan shadaqoh, lalu kita berdayakan masyarakat dengan sektor riil/perdagangan agar kita kuat secara ekonomi. Mendorong lahirnya pengusaha muslim yang mandiri dan profesional, serta menyadarkan ummat untuk membelanjakan hartanya hanya kepada pengusaha ataupun pedagang yang seiman dan seaqidah. Jangan memakai apalagi membeli produk-produk buatan yahudi dan nasrani. BISA KHAN!

Komentar Terakhir